Waktu dan sebuah Jeruk

orange is orange
orange is orange

Sore itu disaat semua tawa telah usai, disaat raga telah lelah berceloteh tentang hari, terbahak atas semua hal kecil yang tak pernah bosan mengalaminya. Ingin sekali rasanya menekan tombol tunda, hanya sekedar untuk menahannya, mengalaminya lebih lama, menyumbangkan lagi senyuman, lebih lebar lagi, lebih ceria lagi, lebih lepas lagi, pada halaman yang telah terisi, tak apa walau secoret saja, barang beberapa detik saja.

Merasakan setiap denyut jantung saat itu lagi, dalam kesadaran yang bertahan. Merangkai kata-kata tanpa tinta untuk mengabadikan perjalanan panjang ini, yang entah kenapa serasa hanya sehari saja.

Dan akupun tersadar, beginilah adanya hidup, indah walau tak ada yang sempurna, walau tak ada yang tersaji beralaskan karpet merah dan segala kemewahannya,  beginilah adanya hidup, kita alami indah sampai tak ada celah lagi untuk tidak bersyukur.

Inilah kita, seperti jeruk, kita segar, muda, ceria, masih suka berlari, masih suka tertawa lepas di pinggir jalan, merasakan hembusan angin sore dan memejamkan mata hanya untuk menghirup dalam-dalam udaranya nya sambil tersenyum, tanpa harus bertopeng.

Perjalanan hari ini menandakan setiap langkah kita tak pernah tanpa alasan, entah itu sadar maupun tidak. Bukti aku mengenal mu  adalah sebuah ungkapan tanpa kata yang berbaris indah sesuai urutan peranan waktu.

Tawa ini takkan kulupa, ini manis, kadang asam namun menyegarkan, tak pernah ada sesal bersama mu.

Manis, dan waktu tak punya peran dalam hal ini. Ini abadi, setidaknya menurutku.

Sore itu disaat semua tawa telah usai, disaat raga telah lelah berceloteh tentang hari, terbahak atas semua hal kecil yang tak pernah bosan mengalaminya. Ingin sekali rasanya menekan tombol tunda, hanya sekedar untuk menahannya, mengalaminya lebih lama, menyumbangkan lagi senyuman, lebih lebar lagi, lebih ceria lagi, lebih lepas lagi, pada halaman yang telah terisi. Tak apa walau secoret saja, barang beberapa detik saja.

Merangkai lagi senyuman sisa-sisa keceriaan seharian, merasakan lagi jeruk dengan rasa yang tak pernah bisa diterka namun selalu berakhir tawa, tanpa waktu ikut serta.

Tapi, kurasa aku tak butuh tombol tunda, karena memang tak ada, cukup hanya ada aku, kalian dan sebuah  jeruk segar pelebar tawa 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Waktu dan sebuah Jeruk

  1. mhmm..kata – katanya indah banget kang…
    memang hidup tidak mengenal siaran tunda..

    dan analogi kita seperti jeruk..keren juga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s